Konsep MR

Manajemen Risiko Keselamatan Transportasi: Selera Risiko Sangat Rendah

Penjelasan mengapa risiko keselamatan transportasi memiliki selera risiko sangat rendah dalam kerangka MR Kemenhub dan implikasinya bagi pengawasan.

Konsep MRMR

Dalam Format 1 MR Itjen 2025, ada pernyataan eksplisit: selera risiko untuk sasaran strategis terkait keselamatan transportasi adalah sangat rendah (Level 5). Ini bukan angka sembarangan — ada alasan kuat di baliknya.

Mengapa Keselamatan Memiliki Selera Risiko Sangat Rendah

Irreversibility (Tidak Bisa Dibalikkan): Risiko keselamatan yang terealisasi — kecelakaan, korban jiwa — tidak bisa diperbaiki dengan uang atau sanksi. Dampaknya bersifat permanen bagi korban dan keluarga.

Public Trust (Kepercayaan Publik): Kemenhub bertanggung jawab atas keselamatan jutaan penumpang setiap hari. Satu insiden besar bisa merusak kepercayaan publik secara permanen.

Regulatory Expectation (Ekspektasi Regulasi): Standar internasional (ICAO untuk penerbangan, IMO untuk pelayaran) mensyaratkan pendekatan zero-tolerance untuk risiko keselamatan tertentu.

Implikasi Selera Risiko Level 5

Selera risiko Level 5 berarti:

  • Setiap risiko keselamatan yang level residualnya > 5 wajib mendapat tindak mitigasi
  • Tidak ada toleransi untuk "menerima" risiko keselamatan yang masih tinggi
  • Eskalasi ke pimpinan tertinggi wajib dilakukan untuk risiko keselamatan yang tereskalasi
  • Audit berbasis risiko oleh Itjen harus memprioritaskan area keselamatan

Perbedaan dengan Risiko Lainnya

| Kategori Risiko | Selera Risiko | Penanganan | |---|---|---| | Keselamatan transportasi | Level 5 (sangat rendah) | Zero tolerance, selalu mitigasi | | Sasaran strategis lainnya | Level 11 (rendah) | Mitigasi jika > 11 | | Risiko operasional biasa | Sesuai konteks | Penilaian kasus per kasus |

Implikasi untuk Auditor Itjen

Saat melakukan ABR atau evaluasi, area keselamatan harus:

  • Selalu masuk dalam PKP dengan prioritas tinggi
  • Memiliki standar pengujian yang lebih ketat
  • Dievaluasi dengan ekspektasi bahwa tidak ada kompromi yang bisa diterima
  • Rekomendasi harus bersifat mandatory, bukan advisory

Sumber resmi